Perbuhan
iklim pada saat ini sangat mempengaruhi berbagai sektor bukan hanya dalam
lingkup nasional namun telah menarik perhatian dunia. Isu global warming
dulunya pernah menjadi sorotan namun dianggap bahwa dampaknya hanya akan
dirasakan puluhan tahun kedepan terutama oleh penduduk Indonesia. Kenyataannya
saat ini Indonesia tengah mengalami dampak dari proses anomali iklim ini. Dampak
yang paling dirasakan dari anomali iklim ini sangat dirasakan dalam sektor pertanian
Indonesia. Lebih penting lagi dampak perubahan
iklim yang dapat dirasakan secara dekat dan nyata adalah dapat menyebabkan
kerentanan pangan.
Apa sajakah pengaruh anomali iklim
terhadap produksi pangan Indonesia?
Bagaimanaah keadaan ini mempengaruhi
keadaan pangan di Indonesia?
Berikut beberapa pengaruh anomali
iklim pada produksi pertanian Indonesia:
- · Pergeseran pola tanam
Perubahan iklim
yang sangat ekstrim ini tengah dirasakan oleh petani-petani indonesia. Sebelum terjadi
perubahan iklim seperti saat ini, dulunya petani dapat menentukan pola tanam
berdasarkan prakiraan jumlah curah hujan untuk beberapa bulan kedepan sebelum
mereka mulai menanam. Namun saat ini peneliti pun kesulitan memprediksi cuaca
yang akan dijadikan dasar penentuan kalender tanam sehingga petani pun kebingungan. Perubahan
iklim membuat pergeseran musim hujan menjadi lebih pendek dan memperpanjang
waktu musim kemarau. Akibatnya petani akan kebingungan dalam memilih komoditi
yang akan dibudidayakan, misalnya pada bulan yang seharusnya dia menanam
palawija justru masih turun hujan sehingga dia akan mengulur-ulur waktu menanam
sampai mungkin tidak ada lagi ada hujan karena kondisi ini akan tidak cocok
dengan palawija. Tidak sedikit ada petani yang mengambil langkah salah dalam
penentuan jenis komoditi. Ada yang nekat tetap memilih menanam palawija namun
ternyata hujan terus turun sehingga tanaman terancam gagal panen. Sebaliknya ada
juga petani yang memilih menanam padi namun ternyata musim hujan tidak
berlangsung lama, bahkan pada saat memasuki kemarau sungai menjadi kering
sehingga sulit mendapat suplai air dan padi pun terancam gagal panen. Pergeseran
lama musim kemarau mengakibatkan peningkatan suhu yang makin
tinggi berpengaruh pada terus meningkatnya evaporasi dan evapotranspirasi yang
berujung pada kian menipisnya ketersediaan air.
- · Frekuensi bencana alam
Ancaman bencana alam yang paling sering menghantui kaum petani akibat
anomali iklim antara lain banjir, kekeringan dan angin puting beliung. Banjir
yang terjadi dapat disebabkan atmosfer menghangat, kemudian lapisan permukaan
lautan juga menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Sementara itu naiknya permukaan laut akan menyebabkan berkurangnya
lahan pertanian akibat salinitas tanah disekitar pantai hal ini jelas sangat
mengancam karena kita masih membutuhkan lahan pertanian yang luas untuk meningkatkan
ketersedian pangan dalam negeri. Keadaan yang sangat kering pada saat musim
kemarau sangat tidak memungkinkan untuk melakukan penanaman tanaman akibat
sulitnya mendapat sumber air namun tidak menjadi jaminan melakukan aktivitas
bercocok tanam pada saat musing hujan adalah waktu yang tepat. Seperti yang
terjadi akhir-akhir ini banyak sawah yang padinya siap dipanen dalam waktu
seminggu kedepan akhirnya harus mengalami kerusakan dan gagal panen akibat
bencana banjir yang datang. Jika kejadian ini terjadi dalam luasan wilayah yang
luas dan terus terjadi secara berulang produks padi nasional permusimnya akan
sangat menurun sehingga menjadi ancaman yang perlu diperhatikan dalam rangka
pemenuhuan kebutuhan pangan dalam negeri yang terbilang cukup besar.
- · Pertumbuhan dan penyebaran OPT
Fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat akan mampu
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman. Salah
satu contohnya adalah serangan wereng cokelat yang
pernah terjadi di Jawa Barat. Dari sebuah penelitian menyatakan bahwa serangan
hama dan penyakit tanaman padi di beberapa tempat mengalami fluktuasi dan
cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Beberapa jenis hama yang ditemukan
antara lain penggerek batang padi, wereng batang coklat, tikus, dan tungro.
Ledakan populasi organisme pengganggu tanaman seperti serangga disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO, yang berakibat
pada penurunan perbandingan unsur nitrogen dalam tumbuhan. Padahal,
nitrogen mutlak untuk hidup serangga. Akibatnynya, serangga akan memakan
biomassa tumbuhan yang lebih banyak. Karena siklus
hidup serangga yang pendek, sehingga serangga cepat mewariskan genetika paling
sesuai dengan kondisi iklim kontemporer pada keturunannya termasuk pada racun.
Kondisi ini akan memperburuk kesehatan tanaman yang terserang OPT seperti
patogen karena nantinya produksi tanaman akan semakin memburuk. Jika hal
seperti ini terjadi secara terus-menerus bukan tidak mungkin kegagalan panen
kan terjadi dimana-mana. Parahnya saat ini organisme yang dulunya penting
berubah menjadi perusak dan semakiin memperparah keadaan. Seperti yang kita
ketahui dalam keadaan ekstrem hal ini dapat mempengaruhi ketahanan pangan.








