Kamis, 03 Oktober 2013

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Pertanian

                Perbuhan iklim pada saat ini sangat mempengaruhi berbagai sektor bukan hanya dalam lingkup nasional namun telah menarik perhatian dunia. Isu global warming dulunya pernah menjadi sorotan namun dianggap bahwa dampaknya hanya akan dirasakan puluhan tahun kedepan terutama oleh penduduk Indonesia. Kenyataannya saat ini Indonesia tengah mengalami dampak dari proses anomali iklim ini. Dampak yang paling dirasakan dari anomali iklim ini sangat dirasakan dalam sektor pertanian Indonesia. Lebih penting lagi dampak perubahan iklim yang dapat dirasakan secara dekat dan nyata adalah dapat menyebabkan kerentanan pangan. 

Apa sajakah pengaruh anomali iklim terhadap produksi pangan Indonesia?

Bagaimanaah keadaan ini mempengaruhi keadaan pangan di Indonesia?

Berikut beberapa pengaruh anomali iklim pada produksi pertanian Indonesia:
  • ·        Pergeseran pola tanam


Perubahan iklim yang sangat ekstrim ini tengah dirasakan oleh petani-petani indonesia. Sebelum terjadi perubahan iklim seperti saat ini, dulunya petani dapat menentukan pola tanam berdasarkan prakiraan jumlah curah hujan untuk beberapa bulan kedepan sebelum mereka mulai menanam. Namun saat ini peneliti pun kesulitan memprediksi cuaca yang akan dijadikan dasar penentuan kalender  tanam sehingga petani pun kebingungan. Perubahan iklim membuat pergeseran musim hujan menjadi lebih pendek dan memperpanjang waktu musim kemarau. Akibatnya petani akan kebingungan dalam memilih komoditi yang akan dibudidayakan, misalnya pada bulan yang seharusnya dia menanam palawija justru masih turun hujan sehingga dia akan mengulur-ulur waktu menanam sampai mungkin tidak ada lagi ada hujan karena kondisi ini akan tidak cocok dengan palawija. Tidak sedikit ada petani yang mengambil langkah salah dalam penentuan jenis komoditi. Ada yang nekat tetap memilih menanam palawija namun ternyata hujan terus turun sehingga tanaman terancam gagal panen. Sebaliknya ada juga petani yang memilih menanam padi namun ternyata musim hujan tidak berlangsung lama, bahkan pada saat memasuki kemarau sungai menjadi kering sehingga sulit mendapat suplai air dan padi pun terancam gagal panen. Pergeseran lama musim kemarau mengakibatkan peningkatan  suhu yang makin tinggi berpengaruh pada terus meningkatnya evaporasi dan evapotranspirasi yang berujung pada kian menipisnya ketersediaan air.

  • ·        Frekuensi bencana alam


Ancaman bencana alam yang paling sering menghantui kaum petani akibat anomali iklim antara lain banjir, kekeringan dan angin puting beliung. Banjir yang terjadi dapat disebabkan atmosfer menghangat, kemudian lapisan permukaan lautan juga menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Sementara itu naiknya permukaan laut akan menyebabkan berkurangnya lahan pertanian akibat salinitas tanah disekitar pantai hal ini jelas sangat mengancam karena kita masih membutuhkan lahan pertanian yang luas untuk meningkatkan ketersedian pangan dalam negeri. Keadaan yang sangat kering pada saat musim kemarau sangat tidak memungkinkan untuk melakukan penanaman tanaman akibat sulitnya mendapat sumber air namun tidak menjadi jaminan melakukan aktivitas bercocok tanam pada saat musing hujan adalah waktu yang tepat. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini banyak sawah yang padinya siap dipanen dalam waktu seminggu kedepan akhirnya harus mengalami kerusakan dan gagal panen akibat bencana banjir yang datang. Jika kejadian ini terjadi dalam luasan wilayah yang luas dan terus terjadi secara berulang produks padi nasional permusimnya akan sangat menurun sehingga menjadi ancaman yang perlu diperhatikan dalam rangka pemenuhuan kebutuhan pangan dalam negeri yang terbilang cukup besar.

  • ·        Pertumbuhan dan penyebaran OPT


Fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat akan mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman. Salah satu contohnya adalah serangan wereng cokelat yang pernah terjadi di Jawa Barat. Dari sebuah penelitian menyatakan bahwa serangan hama dan penyakit tanaman padi di beberapa tempat mengalami fluktuasi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.  Beberapa jenis hama yang ditemukan antara lain penggerek batang padi, wereng batang coklat, tikus, dan tungro. Ledakan populasi organisme pengganggu tanaman seperti serangga disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO, yang berakibat pada penurunan perbandingan unsur nitrogen dalam tumbuhan. Padahal, nitrogen mutlak untuk hidup serangga. Akibatnynya, serangga akan memakan biomassa tumbuhan yang lebih banyak. Karena siklus hidup serangga yang pendek, sehingga serangga cepat mewariskan genetika paling sesuai dengan kondisi iklim kontemporer pada keturunannya termasuk pada racun. Kondisi ini akan memperburuk kesehatan tanaman yang terserang OPT seperti patogen karena nantinya produksi tanaman akan semakin memburuk. Jika hal seperti ini terjadi secara terus-menerus bukan tidak mungkin kegagalan panen kan terjadi dimana-mana. Parahnya saat ini organisme yang dulunya penting berubah menjadi perusak dan semakiin memperparah keadaan. Seperti yang kita ketahui dalam keadaan ekstrem hal ini dapat mempengaruhi ketahanan pangan.

0 komentar:

Posting Komentar