Buat apa sih kuliah?!

Bacaan wajib untuk semua mahasiswa baru!

Pidato Wisudawan Terbaik-Memukau Tetapi Sekaligus "Menakutkan"

Buka Mata ! Seperti inikah sistem pendidikan dasar di negara kita?

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 24 Juni 2014

Tanaman Memiliki "Perasaan"

Dugaan bahwa tanaman sebenarnya memiliki perasaan sudah muncul sejak lama. Salah satunya adalah hasil penelitian Cleve Backster pada 1966, yang kemudian menggugah orang untuk berbicara dengan tanaman hias. Backster adalah mantan spesialis pendeteksi kebohongan CIA (dinas intelejen Amerika) yang mengembangkan teknik poligraf, yang masih digunakan sampai sekarang oleh lembaga militer dan pemerintah AS. Dia melakukan percobaan pada tanaman Dracaena dan ditulis rinci dalam bukunya The Secret Life of Plants.
                Dia memiliki dua tanaman Dracaena dan menghubungkan salah satu dari mereka ke alat pendeteksi kebohongan (lie detector). Dia menyuruh seseorang untuk menginjak-injak tanaman lain, di hadapan tanaman yang dihubungkan ke lie detector. Ketika aksi ini dilakukan, poligraf menunjukan tanaman yang menyaksikan temannya diinjak-injak seketika meras ‘ketakutan’.
                Backster mengambil tindakan lebih lanjut. Tanaman yang ketakutan tadi diuji lagi. Beberapa orang masuk ke ruangan tempat tanaman itu berada, termasuk orang yang telah menginjak tanaman tadi. Poligraf tidak menunjukan reaksi terhadap orang lain, namun ketika orang yang telah menginjak tanaman lain itu masuk ke ruangan, tanaman itu kembali menunjukan rasa takut. Tampaknya ia mampu mengenali orang yang melakukan injakan tadi.

                Backster juga menemukan bahwa tanaman mengalami perasaan bahagia ketika disirami, dan mereka bahkan memiliki kemampuan untuk membaca pikiran manusia. Suatu ketika, saat Backster tengah memikirkan percobaan apa yang akan ia lakukan berikutnya, ia memikirkan untuk membakar daun tanaman guna melihat reaksinya. Meskipun ia belum membakar daun tanaman itu, lie detector yang sudah tersambung pada tanaman, menampilkan reaksi ketakutan.temuan Backster itu telah direproduksi  oleh orang lain, termasuk ilmuwan Rusia, Alexander Dubrov dan Marcel Vogel, yang berada di IBM pada saat studi itu dilakukan. (Sumber kutipan: inilah.com)

Rabu, 20 November 2013

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Dalam posting-an ini saya menuliskan pidato wisudawan SMA di Amerika. Cuplikan pidato ini disampaikan oleh Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan pidato ini dikutip dari tulisan di blog berikut: http://pohonbodhi.blogspot.com/2010/09/you-are-either-with-me-or-against-me.html

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.
Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?
Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Hmmm… setelah membaca pidato wisudawan terbaik tadi, apa kesan anda? Menurut saya pidatonya adalah sebuah ungkapan yang jujur, tetapi menurut saya kejujuran yang “menakutkan”. Menakutkan karena selama sekolah dia hanya mengejar nilai tinggi, tetapi dia meninggalkan kesempatan untuk mengembangkan dirinya dalam bidang lain, seperti hobi, ketrampilan, soft skill, dan lain-lain. Akibatnya, setelah dia lulus dia merasa gamang, merasa takut terjun ke dunia nyata, yaitu masyarakat. Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, dia sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan di dalam hidup ini.

Saya sering menemukan mahasiswa yang hanya berkutat dengan urusan kuliah semata. Obsesinya adalah memperoleh nilai tinggi untuk semua mata kuliah. Dia tidak tertarik ikut kegiatan kemahasiswaan, baik di himpunan maupun di Unit Kegiatan Mahasiswa. Baginya hanya kuliah, kuliah, dan kuliah. Memang betul dia sangat rajin, selalu mengerjakan PR dan tugas dengan gemilang. Memang akhirnya IPK-nya tinggi, lulus cum-laude pula. Tidak ada yang salah dengan obsesinya mengejar nilai tinggi, sebab semua mahasiswa seharusnya seperti itu, yaitu mengejar nilai terbaik untuk setiap kuliah. Namun, untuk hidup di dunia nyata seorang mahasiswa tidak bisa hanya berbekal nilai kuliah, namun dia juga memerlukan ketrampilan hidup semacam soft skill yang hanya didapatkan dari pengembangan diri dalam bidang non-akademis.

Nah, kalau mahasiswa hanya berat dalam hard skill dan tidak membekali dirinya dengan ketrampilan hidup, bagaimana nanti dia siap menghadapi kehidupan dunia nyata yang memerlukan ketrampilan berkomunikasi, berdiplomasi, hubungan antar personal, dan lain-lain. Menurut saya, ini pulalah yang menjadi kelemahan alumni ITB yang disatu sisi sangat percaya diri dengan keahliannya, namun lemah dalam hubungan antar personal. Itulah makanya saya sering menyemangati dan menyuruh mahasiswa saya ikut kegiatan di Himpunan mahasiswa dan di Unit-Unit Kegiatan, agar mereka tidak menjadi orang yang kaku, namun menjadi orang yang menyenangkan dan disukai oleh lingkungan tempatnya bekerja dan bertempat tinggal. Orang yang terbaik belum tentu menjadi orang tersukses, sukses dalam hidup itu hal yang lain lagi.

Menurut saya, apa yang dirasakan wisudawan terbaik Amerika itu juga merupakan gambaran sistem pendidikan dasar di negara kita. Anak didik hanya ditargetkan mencapai nilai tinggi dalam pelajaran, karena itu sistem kejar nilai tinggi selalu ditekankan oleh guru-guru dan sekolah. Jangan heran lembaga Bimbel tumbuh subur karena murid dan orangtua membutuhkannya agar anak-anak mereka menjadi juara dan terbaik di sekolahnya. Belajar hanya untuk mengejar nilai semata, sementara kreativitas dan soft skill yang penting untuk bekal kehidupan terabaikan. Sistem pendidikan seperti ini membuat anak didik tumbuh menjadi anak “penurut” ketimbang anak kreatif.

Baiklah, pada bagian akhir tulisan ini saya kutipkan teks asli (dalam Bahasa Inggris) Erica Goldson di atas agar kita memahami pidato lengkapnya. Teks asli pidatonya dapat ditemukan di dalam laman web ini: Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech .
Valedictorian Speaks Out Against Schooling in Graduation Speech
by Erica Goldson
Here I stand
There is a story of a young, but earnest Zen student who approached his teacher, and asked the Master, “If I work very hard and diligently, how long will it take for me to find Zen? The Master thought about this, then replied, “Ten years.” The student then said, “But what if I work very, very hard and really apply myself to learn fast – How long then?” Replied the Master, “Well, twenty years.” “But, if I really, really work at it, how long then?” asked the student. “Thirty years,” replied the Master. “But, I do not understand,” said the disappointed student. “At each time that I say I will work harder, you say it will take me longer. Why do you say that?” Replied the Master, “When you have one eye on the goal, you only have one eye on the path.”
This is the dilemma I’ve faced within the American education system. We are so focused on a goal, whether it be passing a test, or graduating as first in the class. However, in this way, we do not really learn. We do whatever it takes to achieve our original objective.
Some of you may be thinking, “Well, if you pass a test, or become valedictorian, didn’t you learn something? Well, yes, you learned something, but not all that you could have. Perhaps, you only learned how to memorize names, places, and dates to later on forget in order to clear your mind for the next test. School is not all that it can be. Right now, it is a place for most people to determine that their goal is to get out as soon as possible.
I am now accomplishing that goal. I am graduating. I should look at this as a positive experience, especially being at the top of my class. However, in retrospect, I cannot say that I am any more intelligent than my peers. I can attest that I am only the best at doing what I am told and working the system. Yet, here I stand, and I am supposed to be proud that I have completed this period of indoctrination. I will leave in the fall to go on to the next phase expected of me, in order to receive a paper document that certifies that I am capable of work. But I contend that I am a human being, a thinker, an adventurer – not a worker. A worker is someone who is trapped within repetition – a slave of the system set up before him. But now, I have successfully shown that I was the best slave. I did what I was told to the extreme. While others sat in class and doodled to later become great artists, I sat in class to take notes and become a great test-taker. While others would come to class without their homework done because they were reading about an interest of theirs, I never missed an assignment. While others were creating music and writing lyrics, I decided to do extra credit, even though I never needed it. So, I wonder, why did I even want this position? Sure, I earned it, but what will come of it? When I leave educational institutionalism, will I be successful or forever lost? I have no clue about what I want to do with my life; I have no interests because I saw every subject of study as work, and I excelled at every subject just for the purpose of excelling, not learning. And quite frankly, now I’m scared.
John Taylor Gatto, a retired school teacher and activist critical of compulsory schooling, asserts, “We could encourage the best qualities of youthfulness – curiosity, adventure, resilience, the capacity for surprising insight simply by being more flexible about time, texts, and tests, by introducing kids into truly competent adults, and by giving each student what autonomy he or she needs in order to take a risk every now and then. But we don’t do that.” Between these cinderblock walls, we are all expected to be the same. We are trained to ace every standardized test, and those who deviate and see light through a different lens are worthless to the scheme of public education, and therefore viewed with contempt.
H. L. Mencken wrote in The American Mercury for April 1924 that the aim of public education is not “to fill the young of the species with knowledge and awaken their intelligence. … Nothing could be further from the truth. The aim … is simply to reduce as many individuals as possible to the same safe level, to breed and train a standardized citizenry, to put down dissent and originality. That is its aim in the United States.”
To illustrate this idea, doesn’t it perturb you to learn about the idea of “critical thinking?” Is there really such a thing as “uncritically thinking?” To think is to process information in order to form an opinion. But if we are not critical when processing this information, are we really thinking? Or are we mindlessly accepting other opinions as truth?
This was happening to me, and if it wasn’t for the rare occurrence of an avant-garde tenth grade English teacher, Donna Bryan, who allowed me to open my mind and ask questions before accepting textbook doctrine, I would have been doomed. I am now enlightened, but my mind still feels disabled. I must retrain myself and constantly remember how insane this ostensibly sane place really is.
And now here I am in a world guided by fear, a world suppressing the uniqueness that lies inside each of us, a world where we can either acquiesce to the inhuman nonsense of corporatism and materialism or insist on change. We are not enlivened by an educational system that clandestinely sets us up for jobs that could be automated, for work that need not be done, for enslavement without fervency for meaningful achievement. We have no choices in life when money is our motivational force. Our motivational force ought to be passion, but this is lost from the moment we step into a system that trains us, rather than inspires us.
We are more than robotic bookshelves, conditioned to blurt out facts we were taught in school. We are all very special, every human on this planet is so special, so aren’t we all deserving of something better, of using our minds for innovation, rather than memorization, for creativity, rather than futile activity, for rumination rather than stagnation? We are not here to get a degree, to then get a job, so we can consume industry-approved placation after placation. There is more, and more still.
The saddest part is that the majority of students don’t have the opportunity to reflect as I did. The majority of students are put through the same brainwashing techniques in order to create a complacent labor force working in the interests of large corporations and secretive government, and worst of all, they are completely unaware of it. I will never be able to turn back these 18 years. I can’t run away to another country with an education system meant to enlighten rather than condition. This part of my life is over, and I want to make sure that no other child will have his or her potential suppressed by powers meant to exploit and control. We are human beings. We are thinkers, dreamers, explorers, artists, writers, engineers. We are anything we want to be – but only if we have an educational system that supports us rather than holds us down. A tree can grow, but only if its roots are given a healthy foundation.
For those of you out there that must continue to sit in desks and yield to the authoritarian ideologies of instructors, do not be disheartened. You still have the opportunity to stand up, ask questions, be critical, and create your own perspective. Demand a setting that will provide you with intellectual capabilities that allow you to expand your mind instead of directing it. Demand that you be interested in class. Demand that the excuse, “You have to learn this for the test” is not good enough for you. Education is an excellent tool, if used properly, but focus more on learning rather than getting good grades.
For those of you that work within the system that I am condemning, I do not mean to insult; I intend to motivate. You have the power to change the incompetencies of this system. I know that you did not become a teacher or administrator to see your students bored. You cannot accept the authority of the governing bodies that tell you what to teach, how to teach it, and that you will be punished if you do not comply. Our potential is at stake.
For those of you that are now leaving this establishment, I say, do not forget what went on in these classrooms. Do not abandon those that come after you. We are the new future and we are not going to let tradition stand. We will break down the walls of corruption to let a garden of knowledge grow throughout America. Once educated properly, we will have the power to do anything, and best of all, we will only use that power for good, for we will be cultivated and wise. We will not accept anything at face value. We will ask questions, and we will demand truth.
So, here I stand. I am not standing here as valedictorian by myself. I was molded by my environment, by all of my peers who are sitting here watching me. I couldn’t have accomplished this without all of you. It was all of you who truly made me the person I am today. It was all of you who were my competition, yet my backbone. In that way, we are all valedictorians.
I am now supposed to say farewell to this institution, those who maintain it, and those who stand with me and behind me, but I hope this farewell is more of a “see you later” when we are all working together to rear a pedagogic movement. But first, let’s go get those pieces of paper that tell us that we’re smart enough to do so!
~~~~~~~~~~
Pidato Erica tersebut juga dimuat di blog America dan mendapat tanggapan luas oleh publik di sana. Silakan baca di sini:http://americaviaerica.blogspot.com/2010/07/coxsackie-athens-valedictorian-speech.html
 Artikel ini merupakan hasil repost dari:

Kamis, 03 Oktober 2013

Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Produksi Pertanian

                Perbuhan iklim pada saat ini sangat mempengaruhi berbagai sektor bukan hanya dalam lingkup nasional namun telah menarik perhatian dunia. Isu global warming dulunya pernah menjadi sorotan namun dianggap bahwa dampaknya hanya akan dirasakan puluhan tahun kedepan terutama oleh penduduk Indonesia. Kenyataannya saat ini Indonesia tengah mengalami dampak dari proses anomali iklim ini. Dampak yang paling dirasakan dari anomali iklim ini sangat dirasakan dalam sektor pertanian Indonesia. Lebih penting lagi dampak perubahan iklim yang dapat dirasakan secara dekat dan nyata adalah dapat menyebabkan kerentanan pangan. 

Apa sajakah pengaruh anomali iklim terhadap produksi pangan Indonesia?

Bagaimanaah keadaan ini mempengaruhi keadaan pangan di Indonesia?

Berikut beberapa pengaruh anomali iklim pada produksi pertanian Indonesia:
  • ·        Pergeseran pola tanam


Perubahan iklim yang sangat ekstrim ini tengah dirasakan oleh petani-petani indonesia. Sebelum terjadi perubahan iklim seperti saat ini, dulunya petani dapat menentukan pola tanam berdasarkan prakiraan jumlah curah hujan untuk beberapa bulan kedepan sebelum mereka mulai menanam. Namun saat ini peneliti pun kesulitan memprediksi cuaca yang akan dijadikan dasar penentuan kalender  tanam sehingga petani pun kebingungan. Perubahan iklim membuat pergeseran musim hujan menjadi lebih pendek dan memperpanjang waktu musim kemarau. Akibatnya petani akan kebingungan dalam memilih komoditi yang akan dibudidayakan, misalnya pada bulan yang seharusnya dia menanam palawija justru masih turun hujan sehingga dia akan mengulur-ulur waktu menanam sampai mungkin tidak ada lagi ada hujan karena kondisi ini akan tidak cocok dengan palawija. Tidak sedikit ada petani yang mengambil langkah salah dalam penentuan jenis komoditi. Ada yang nekat tetap memilih menanam palawija namun ternyata hujan terus turun sehingga tanaman terancam gagal panen. Sebaliknya ada juga petani yang memilih menanam padi namun ternyata musim hujan tidak berlangsung lama, bahkan pada saat memasuki kemarau sungai menjadi kering sehingga sulit mendapat suplai air dan padi pun terancam gagal panen. Pergeseran lama musim kemarau mengakibatkan peningkatan  suhu yang makin tinggi berpengaruh pada terus meningkatnya evaporasi dan evapotranspirasi yang berujung pada kian menipisnya ketersediaan air.

  • ·        Frekuensi bencana alam


Ancaman bencana alam yang paling sering menghantui kaum petani akibat anomali iklim antara lain banjir, kekeringan dan angin puting beliung. Banjir yang terjadi dapat disebabkan atmosfer menghangat, kemudian lapisan permukaan lautan juga menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Sementara itu naiknya permukaan laut akan menyebabkan berkurangnya lahan pertanian akibat salinitas tanah disekitar pantai hal ini jelas sangat mengancam karena kita masih membutuhkan lahan pertanian yang luas untuk meningkatkan ketersedian pangan dalam negeri. Keadaan yang sangat kering pada saat musim kemarau sangat tidak memungkinkan untuk melakukan penanaman tanaman akibat sulitnya mendapat sumber air namun tidak menjadi jaminan melakukan aktivitas bercocok tanam pada saat musing hujan adalah waktu yang tepat. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini banyak sawah yang padinya siap dipanen dalam waktu seminggu kedepan akhirnya harus mengalami kerusakan dan gagal panen akibat bencana banjir yang datang. Jika kejadian ini terjadi dalam luasan wilayah yang luas dan terus terjadi secara berulang produks padi nasional permusimnya akan sangat menurun sehingga menjadi ancaman yang perlu diperhatikan dalam rangka pemenuhuan kebutuhan pangan dalam negeri yang terbilang cukup besar.

  • ·        Pertumbuhan dan penyebaran OPT


Fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat akan mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman. Salah satu contohnya adalah serangan wereng cokelat yang pernah terjadi di Jawa Barat. Dari sebuah penelitian menyatakan bahwa serangan hama dan penyakit tanaman padi di beberapa tempat mengalami fluktuasi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.  Beberapa jenis hama yang ditemukan antara lain penggerek batang padi, wereng batang coklat, tikus, dan tungro. Ledakan populasi organisme pengganggu tanaman seperti serangga disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO, yang berakibat pada penurunan perbandingan unsur nitrogen dalam tumbuhan. Padahal, nitrogen mutlak untuk hidup serangga. Akibatnynya, serangga akan memakan biomassa tumbuhan yang lebih banyak. Karena siklus hidup serangga yang pendek, sehingga serangga cepat mewariskan genetika paling sesuai dengan kondisi iklim kontemporer pada keturunannya termasuk pada racun. Kondisi ini akan memperburuk kesehatan tanaman yang terserang OPT seperti patogen karena nantinya produksi tanaman akan semakin memburuk. Jika hal seperti ini terjadi secara terus-menerus bukan tidak mungkin kegagalan panen kan terjadi dimana-mana. Parahnya saat ini organisme yang dulunya penting berubah menjadi perusak dan semakiin memperparah keadaan. Seperti yang kita ketahui dalam keadaan ekstrem hal ini dapat mempengaruhi ketahanan pangan.

Sabtu, 22 Desember 2012

Urgensi Softskill Untuk Masa Depan



Mahasiswa sebagai agent of change harus memiliki kemampuan dan keterampilan serta kepribadian yang tangguh, kuat, dan santun. Soft skill merupakan keterampilan yang dapat mementuk kepribadian seprti itu. Semakin banyak keterampilan halus (soft skil) yang dimiliki diharapkan semakin kuat kepribadian mahasiswa dalam menghadapi  semua tantangan pembelajaran di kampus, tantangan kerja, serta tantangan yang lain. Kadang-kadang apa yang diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhny serasi dengan keutuhan dilapangan kerja, ketidakserasian ini disebabkan pendidikan didalam kelas yang lebih bertumpu pada hard skill. Untuk mengatasi maslah ini salah satu caranya adalah memberikan bobot yang lebih tinggi pada pengembangan soft skill , dan implementasinya dalam pembelajaran perlu dikembangkan.
                Di dalam persaingan seperti sekarang, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki profesionalisme dan manajerial skill yang berbasis kemampuan sudah merupakan tuntutan. Terlebih di dunia kerja sekarang banyak dipengaruhi perubahan pasar, ekonomi dan teknologi. Tenaga kerja yang memiliki kecerdasan emosional sangat mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut disamping kecerdasan intelektual. Dari survey yang dilakukan Nasional Assosiation of Colleges and Employers USA (2002) terhadap 457 pimpinan perusahaan, kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa indeks prestasi kumulatif tidak akan terlalu berpengaruh, melainkan kemampuan komunikasi,  kejujuran, kerjasama, motivasi, kemampuan beradaptasi dan kemampuan interpersonal dengan orientasi nilai pada kinerja yang efektif dimana semuanya ada dalam soft skill.
                Bukan berarti bahwa sekolah atau kuliah menjadi tidak penting. Namun, keseimbangan dari pertumbuhan hard skill dan soft skill akan membuat seseorang mengalami sukses lebih cepat dan lebih jauh dari kesuksesan yang hanya ditunjang oleh salah satu faktor tersebut. Perpaduan antara hard skill dan soft skill sangat diperlukan untuk meraih jenjang karir yang tinggi atau memperluas bisnis di masa depan.
                 Pelaksanaan pengembangan soft skill di kampus atau di sekolah tidak harus melalui perubahan kurikulum dengan menambahkan matakuliah sendiri untuk pengembangan keterampilan ini, namun dapat dilakukan juga dengan mengimplementasikan ini dalam kurikulum. Apabila atribut soft skill yang akan dikembangkan adalah kemampuan lisan, maka proses pembelajarannya dapat dilakukkan dngan metode diskusi, bermain peran, serta diskusi kelompok. Sedangkan untuk atribut soft skill kerja sama dapat dilakukkan dengan pemberian tugas kelompok. Selain itu, pengembangan atribut ini juga dapat dilakukkan dengan ikut kegiatan keorganisasian di kampus, atau lingkungan lainnya.
                Pada prinsipnya pengembangan soft skill  dapat dikembangkan melalui sisipan dalam berbagai mata kuliah, hanya tinggl memilih metode yang teat untuk itu. Kesuksesan dosen, mahasiswa, tenaga kerja, dan ainnya tidak hanya ditentukan hard skill, seperti keterampilan teknik, prestasi belajar, dan potens akademi umum, tetapi  juga dibutuhkan soft skill. Sehubungan dengan itu, mahasiswa harus lebih aktif berkegiatan positif dengan memanfaatkan ajang kreatifitas yang ada.

Kamis, 29 November 2012

Pilihan Terbaik Melanjutkan Studi di Perguruan Tinggi



Setelah lulus UN, sebenarnya kuliah di fakultas apa yang menjanjikan untuk masa depan kita?

            Setelah lulus SMA, anda pasti sudah langsung berpikir untuk memilah-milih akan melanjutkan studi di universitas apa, khususnya fakultas apa (?). Sebagai seorang yang terdidik seharusnya anda bisa melihat kenyataan yang ada disekitar anda, sehingga dapat menentukkannya dengan tepat. Pada saat ini negara kita sedang gencarnya melakukan pembangunan di bidang IT, maupun industri. Bukanlah hal yang salah jika pemerintah melakukan pembangunan di bidang tersebut, mengingat posisi kita yang masih termasuk negara berkembang dan bukan negara maju padahal negara ini sudah memasuki usia 67 tahun. Namun, sebenarnya bidang yang sangat menjanjikan untuk kesejahteraan kita dimasa depan itu terletak di bidang pertanian. Oleh karena itu masuk Fakultas Pertanian adalah sebuah pilihan tepat untuk melanjutkan studi d PT. Megapa kita mesti mengikuti negara tetannga yang telah maju dalam bidang industri? Sudahlah! Itu karena mereka tidak mempunyai pertanian untuk dikembangkan. Sedangkan kita memiliki pertanian, mengapa tidak memilih pertanian sebagai kepastian menuju negara yang sejahtera ?!!

          mengapa memilih Fakultas Pertanian ?
 sedikit berbagi pengalaman J
            Dulu pada saat saya lulus SNMPTN, saya pernah ditanyai beberapa orang terdekat saya.
            “kamu lulus di universitas apa, mam?”, “Alhamdulillah aku lulus di UGM
            “ wah hebat ya !! lulusnya di fakultas apa?”, “Aku di fakultas pertanian
            “hwalah, mau jadi apa kamu di pertanian mam? Jadi petani? Jadi tukang kebun di sekolahan?” (nada menganggap remeh pertanian)

*******
“Mam, gimana hasil SNMPTN-nya? Lulus ga?”, “Alhmdulillah lulus kok
“Trus lulusnya di universitas apa?”, “Aku lulus di UGM men”
“Hebat kamu ya !! di fakultas apa sih?”, “Di fakultas pertanian
“Pantas aja bisa masuk UGM, orang kamu daftarnya di pertanian doang !!”
 *******
            Apa yang menjadi gambaran pikiran orang-orang di atas adalah sebuah kesalahan besar. Mereka tidak lebih dari orang “awam” yang coba men-judge sesuatu yang abstrak di pikiran mereka. Jika anda ada di posisi itu, apakah anda akan merasa malu? Apakah anda akan berpikir untuk meninggalkan pertanian?
JANGAN PERNAH !!


JANGAN PERNAH MALU JADI MAHASISWA FAKULTAS PERTANIAN !!

            Jika anda telah berhasil menjadi mahasiswa pertanian, jangan pernah anda merasa malu! Anda telah memilih suatu jalan yang tepat untuk berkontribusi untuk negara ini.
            Sejak dulu Indonesia telah dikenal sebagai negara agraris, yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian. Ini adalah jalan yang tepat. Allah SWT telah melimpahkan kekayaan SDA yang tidak satu pun negara di belahan dunia lain memiliki hal yang sama. Seharusnya kita bangga, dan mau memanfatkannya sebaik mungkin. Masuknya penjajah pertama kali ke Indonesia disebabkan mereka ingin menguasai hasil pertanian kita. Lihatlah betapa mereka iri dengan apa yang kita miliki!
Tapi mengapa sekarang kita malah menjatuhkan pertanian kita sendiri? Mengapa anak petani tidak ingin menjadi petani? Mengapa minat calon mahasiswa terhadap Fakultas Pertanian semakin sedikit? Oke! Penyebab dari semua masalah itu adalah pencitraan yang salah akan pertanian itu sendiri. Kebanyakan dari kita akan langsung berpikir sosok yang tua dengan baju compng-camping membawa pacul di tangannya di bawah terik matahari ketika mendengar kata petani. Apakah semua petani seperti itu? Tentu tidak bung! Lihatlah petani di Jepang, lihatlah petani di Amerika, ataupun di Australi. Mereka tidak sama dengan petani kita, mengapa? Karena mereka adalah petani yang modern. Petani yang mempunyai ilmu pertanian yang lebih.
            Terus gimana? Apakah kita harus menyekolahkan petani kita di FPN (Fakultas Pertanian) ?
Jelas gak bro ! kalian sadar ga sih? Kalian adalah penerus bangsa ini. Mengapa bukan kita yang menuntut ilmu di FPN untuk masa depan mereka? Untuk masa depan pertanian? untuk masa depan Indonesia? Di  masa yang akan datang, kita yang akan menjadi petani, petani-petani modernn seperti yang dilakukan Jepang.
            Apa kita mampu menngungguli pertanian mereka? Bagaimana  kita bisa melakukannya? Apa yang kita punya?
Kita bisa lebih unggul dari mereka, kita punya SDA yang melimpah dibanding mereka. Ga ada alasan untuk berpikir tidak. Kita hanya perlu membangun SDM yang kita miliki.
            Kalian sadar ga, seberapa penting pertanian?
mungkin tidak pernah terpikikan seberapa penting pertanian itu. Kenyataannya pertanian memiliki peran yang sangat penting dalam suatu negara. Menurut salah satu profesor pertanian di UGM, kita dapat menguasi negara lain asal kita dapat menguasai perut mereka. Dan itu hanya dapat dilakukan melalui pertanian. coba anda berpiikir apa yang dapat dilakukan suatu negara jika tidak ada hasil pertanian? apakah mereka bisa memiliki pertahanan yang kuat? Apakah mereka bisa menciptakan sesuatu yang hebat dengan manusia yang kekurangan pangan? Bagaimana bisa semua itu tercapai padahal untuk makan saja mereka mengalami krisis.

Mungkin itu sebagian kecil alasan mengapa anda harus memilih FAKULTAS PERTANIAN !! (Imam)

Senin, 19 November 2012

Buat Apa sih Kuliah?

Selamat Kamu sudah jadi mahasiswa
lalu kenapa?
Memang apa sih kerennya jadi mahasiswa? Kamu pikir kamu keren kalau jadi mahasiswa? Dengan jas almamater yang heroik kamu jadi bisa kembali ke sekolah kamu dan berkata, “saya sekarang mahasiswa UNAIR loh” atau “ini nih lihat jaket kuning UI gw”.
Okey, itu memang salah satu bagian menyenangkan yang bisa dibanggakan, tapi kalo udah bangga, kamu mau apa? Apa yang kamu dapatkan dari kebanggaan tersebut?
‘seneng aja’
‘kepuasaan batin’
‘yah keren aja sih’
Ada lagi kah ?
Kamu udah yakin dengan pilihan jurusan dan kampus kamu? Sudah sesuai dengan panggilan jiwa belum? Atau kamu masih bohong sama diri kamu?
‘iya saya sudah yakin kok sama pilihan saya’
‘ah masa sih?, yakin? Itu kok muka masih belum pede tampaknya’
‘ya dibuat yakin dong, kan sudah keterima’
‘bener nih gak nyesel?’
‘emang ada pilihan lain kah?’
Kamu sudah jadi mahasiswa nih sekarang, lalu kamu mau jadikan titel kamu nanti untuk apa? Mau dijadikan apa titel yang kamu raih?
Sobat, kata rektor saya dulu, biaya standar untuk seorang sarjana teknik adalah Rp.28.000.000 setiap semesternya. Jumlah yang yang gak kecil loh, coba saya tanya berapa biaya kuliah? Dulu saya di ITB 1.850.000 per semesternya. Kabarnya sekarang sudah mencapai hingga 5 juta rupiah per semesternya. Okelah kita pakai standar sekarang saja, dan dengan asumsi biaya sarjananya tetap.
Dengan asumsi ini saja saya bisa mengatakan kalau dalam satu semester, minimal kita sudah memiliki hutang 23 juta per semesternya. Hutang? Pasti banyak yang bertanya, itu hutang ke siapa? Hutangnya ke Rakyat Indonesia kawan. Mereka yang bayar pajak itu telah mensubsidi kuliah kamu, khususnya buat kamu yang kuliah di kampus negeri.
Pendidikan yang berkualitas itu hakekatnya memang mahal, pertanyaannya siapa yang akan menanggung biaya pendidikan tersebut? Dalam kasus Indonesia, rakyatlah yang juga dibebankan untuk membiayai kuliah kita.
Saat pertama kali masuk ITB beberapa tahun yang lalu, seorang alumni yang sangat senior berbicara dalam sebuah sesi seminar.
“untuk masuk ITB, perbandingan tingkat kompetisinya adalah 1 banding 20. Artinya ketika kamu bahagia karena telah masuk ITB, ada 19 anak muda Indonesia lain yang menangis kecewa karena gagal diterima di ITB.
Kamu kuliah di subsidi oleh rakyat, maka untuk membalas budi pengorbanan uang yang telah rakyat berikan, kamu minimal harus bisa kasih makan ke 76 orang lainnya. Darimana angka 76 tersebut?
Kita asumsikan 19 orang tersebut menikah dan memiliki dua anak saja, maka itu berarti 19 dikali 4 yaitu 76 orang”
Kata-kata tersebut selalu terngiang di benak saya hingga saat ini, saya selalu berpikir dan mencari jalan bagaimana bisa membuka kesempatan menambah penghasilan bagi 76 orang. Tentu bukan hanya dengan membuka lapangan kerja dengan menjadi entrepreneur, banyak cara untuk bisa berbagi seperti dengan aktivitas sosial.
Bagaimanapun caranya, itulah yang perlu kita sama-sama pikirkan. Bahwa kamu jadi mahasiswa itu tidak mudah dan tidak bisa asal-asalan. Kamu perlu tanya ke diri kamu, “saya mau berkontribusi apa selama jadi mahasiswa dan setelah lulus untuk negeri ini?
Karena kuliah kamu bukan hanya menyangkut diri kamu, tetapi juga ratusan juta rakyat Indonesia di masa kini dan masa depan. Mahasiswa seringkali disebut sebagai unsur perbaikan negara, ya benar adanya kalimat tersebut. Karena ditangan mahasiswa yang nantinya akan masuk ke dunia nyata lah negeri ini bergantung harapan.
Kamu kuliah, kamu termasuk dalam 18% rakyat Indonesia usia 18-23 tahun yang beruntung bisa menikmati bangku di perguruan tinggi. Jumlahnya tidak sampai 4.5 juta saja mahasiswa itu. Maka renungkanlah nasih 78%  rakyat Indonesia lainnya yang
Karena kamu itu mahasiswa, ada kata MAHA di depan siswa. Maha itu identik dengan tidak terbatas dan tidak pernah habis. Perlu di ingat, bahwa penggunaan kata MAHA itu identik dengan sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan (e.g Maha Pengasih,dan Maha Penyayang). Menariknya bahasa Inggris nya dari Mahasiswa adalah student, atau terkadang ditambahkan College Student. Bahasa arabnya mahasiswa adalah thulabiy, sama dengan siswa. Mereka tidak menggunakan terminologi Great Student atau AkbaruThulabiy sebagai kata ganti mahasiswa.
Hanya di Indonesia yang menggunakan pola kata seperti ini. Kenapa? Karena ada sebuah harapan khusus bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa memiliki karakter seorang MahaSiswa, seorang yang tidak pernah terbatas hasratnya untuk bisa menuntut ilmu.
Dalam sebuah lirik lagu perjuangan kampus yang berjudul “Kampusku”, sang pengubah lagu menuliskan seperti ini;
Berjuta Rakyat Menanti Tanganmu
Mereka Lapar dan Bau Keringat
Kusampaikan Salam Salam Perjuangan
Kami Semua Cinta Indonesia
Tapi kamu juga jangan terlalu Geer dulu dengan segala sanjungan untuk mahasiswa, itu gak sekeren itu kok, kadang malah cuma klise belaka. Saya malah berpikir terlalu banyak pujian untuk seorang yang menyandang label mahasiswa. Padahal jadi mahasiswa gak sekeren itu kok, apa sih mahasiswa? Belajar males, kajian kebangsaan cuek, demo di jalan gak mau, kegiatan pengembangan masyarakat juga gak peduli, bahkan fokus pada kompetensinya saja juga enggan.
Apa sih mahasiswa itu? Cuma mampu mejeng dengan tampang keren, sok bawa mobil ke kampus padahal uang orang tua. Bergaya sana sini, ganti pacar tiap bulan, gak nyimak dosen di kelas, ke kampus dandannya udah seperti mau ke resepsi pernikahan.
Ngapain sih tuh mahasiswa? Selama empat tahun di kampus akhirnya gak aplikasi ilmunya, berpikir gimana ngasih makan dirinya saja, lupa kalau dia di bayarin rakyat saat kuliah, jadi manusia hedon yang lupa kalau masih banyak rakyat yang lapar dan bau keringat.
Ah mahasiswa, apa pentingnya? Cuma bisa kritik keadaan negeri tanpa mau berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk negerinya. Hanya ribut diantara mahasiswa, bakar ban dan akhirnya rakyat lagi yang kembali menderita.
HEI KAMU YANG MENGAKU MAHASISWA !
Coba sekarang saya tanya buat kamu yang mau lulus kuliah, buat apa sih kamu kuliah? Abis kuliah mau kemana?
‘ikutin aja kemana angin membawa’
‘yah kita lihat nantilah gimana abis wisuda’
‘mau kerja dulu deh, sambil mikir mau ngapain setelahnya’
Umm. Okey, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat tersebut. Tetapi kalimat-kalimat ini menandakan masih banyak diantara mahasiswa dan alumni muda yang bahkan tidak tau mau ngapain setelah lulus.
Helloooo
Dimana #panggilanjiwa kamu kawan? Masih belum berjumpakah dengan #panggilanjiwa kamu itu? Atau bahkan kamu tidak berusaha mencarinya?
Sobat,apakah dunia kampus belum cukup untuk kamu dalam mem-#bangunmimpi? Butuh berapa lama lagi untuk kamu agar bisa menemukan dan merencanakan mimpi besar kamu sobat? Atau jangan jangan kamu lebih nyaman dalam ketidakpastian mimpi kamu?
Mereka yang tidak punya mimpi akan terjebak pada kegalauan hidup, dan bila kegalauan hidup menemani mereka maka ketidakpastian akan menjadi sahabat, dan akhirnya berujung pada ketidakjelasan manfaat hidup itu sendiri.
APA KONTRIBUSI KAMU UNTUK NEGERI?
Percuma saja kamu kuliah kalau ternyata pilihan jurusannya bukan yang kamu minati, bohong dengan #panggilanjiwa hanya untuk mengejar titel di kampus negeri saja. Hidup itu bukan sekedar titel kamu di dapat dimana, tetapi kamu mau berbuat apa dengan titel tersebut untuk kebaikan dan kebermanfaatan.
Kamu pikir jadi alumni dari kampus beken itu terjamin masa depannya kawan? Saya justru banyak kenal teman, senior, dan junior saya di kampus yang luntang-luntung gak jelas karena penuh kegalauan dalam menatap masa depan. Mereka tidak membangun karakter diri selama jadi mahasiswa. Akibatnya? Hidup segan, Mati enggan.
Lantas, apa yang bisa dibanggakan ketika setelah lulus hanya menjadi sekrup kapitalis yang menghambakan diri pada uang dan rela ketika sumber daya negeri ini dikeruk untuk kepentingan asing semata. Apa kalian lupa kalau kalian kuliah disubsidi oleh negara? Uang rakyat itu kawan? Hasil pajak mereka yang berharap negeri ini lebih baik.
Buat saya, percuma belajar mati-matian masuk perguruan tinggi kalau ujung-ujungnya hanya memetingkan isi perut belaka dan tidak mampu berkontribusi untuk bangsa. Sayang banget kawan, bila 4-5 atau bahkan 6 tahun kuliah pada akhirnya hanya menjadi perusak negeri, yang serakah atas kebutuhan dunia.
Atau lebih sadis lagi mereka para koruptor yang menghabiskan hidup untuk merusak moral sosial bangsa. Seharusnya mereka mereka inilah yang di klaim oleh Malaysia bukan budaya Indonesia.
Rakyat negeri ini membiayai kamu kuliah bukan hanya untuk mendapatkan IPK Cum Laude atau terancam Cum Laude. Yakin nih yang IPK nya 4.00 itu benar-benar cerdas? Jangan-jangan mereka cuma seorang robot yang jago menyelesaikan soal ujian, tetapi gamang dalam menghadapi soal kehidupan.
Kamu kuliah di kampus teknik, jadilah teknokrat yang visioner. Kuliah di fakultas hukum, jadilah advokat yang adil. Belajar di jurusan ekonomi, maka jadilah ekonom yang bijak. Atau bila kamu kuliah di kampus pertanian, bangunlah negeri ini dengan ilmu pertanian yang kamu miliki, jangan mangkir dari kompetensi dan malah berpikir untuk menjadi bankir.
Kuliah itu mahal kawan, setau saya di UI sudah Rp.25.000.000, di ITB bahkan ada yang mencapai Rp.50.000.000. Biaya per semester juga sudah semakin besar, lalu apa yang kamu cari setelah lulus? Hanya bekerja sebagai pegawai kah pilihan hidup kamu?
Masih banyak anak muda Indonesia yang tidak kuliah. Atau alumni kampus yang katanya beken dan akhirnya memilih untuk bersaing dalam job fair dengan alumni kampus yang katanya ga beken? Gak malu ya sobat?
Yuk kita berpikir #beda , jangan berpikir “mau kerja di perusahaan apa”, melainkan “mau buka lapangan kerja dimana ya”
Saya sering bilang ke mahasiswa ITB, buat apa kamu bangga masuk ITB kalau hanya bisa jadi mahasiswa KUPU KUPU alias kuliah pulang kuliah pulang. Mending kamu sekalian aja pulang ke rumah orang tua kamu. Karena kita kuliah bukan hanya untuk mengejar nilai, kita kuliah untuk menikmati proses pembelajaran diri dalam setiap kesempatan.
Malu lah pakai jaket kuning UI yang katanya keren itu kalau gak peka sama isu sosial masyarakat, hanya mengenal kuliah-kafe-mall saja. Helloo kawan, itu jaket kuning lambang perjuangan, apa kontribusi kamu untuk negara. Kalau kamu sudah berkontribusi untuk negeri, barulah boleh sedikit bangga dengan jaket kuning kamu sobat!
Atau mahasiswa UGM yang terkenal dengan jaket warna karun goni, itu warna kerakyatan, maka segen saya lihat mahasiswa UGM kalau melihat dan memikirkan realita rakyat aja gak mau. Jaket mu itu bukti pengorbanan sobat!
Malu lah gw jadi mahasiswa kalau sepanjang masa kuliahnya gak pernah demo di jalan
Ah capeklah kuliah itu kalau hanya mengejar Nilai tetapi anti sosial, menjadi manusia robot yang bangga jadi sekrup kapitalis.
Buat kamu yang baru lulus SNMPTN atau segala bentuk ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Berani janji kontribusi apa selama jadi mahasiswa? Atau udah cukup bangga dengan label mahasiswa?
Masuk jurusan kedokteran kampus beken, tetapi gak mau praktek di daerah terpencil, hanya mau jadi dokter di kota. Hmm percuma deh, di kota di daerah daerah aja masih kekurangan dokter, di kota dokter menumpuk. Hmm mendingan mundur deh.
Ayolah kawan! Kita MAHAsiswa, ada kata Maha di depan siswa, masa masih sama sama aja konsep berpikirnya dengan mereka yang tidak sekolah. Malu la kita sama tukang bakso yang bisa punya 3 pegawai, mereka yang tidak kuliah aja bisa ngasih makan orang lain, lah mahasiswa? Bangun Idealisme itu kawan, sejak mahasiswa, kesempatan terakhir untuk membangun idealisme itu ada di kampus. Setelah lulus, kalian akan menikmati dunia nyata yang sangat kejam dan pragmatis.
Hidup itu bukan hanya tentang duit, duit, dan DUIT.
Mahasiswa itu #beda!
Yuk kita bangun konsep berpikir yang dewasa. Jangan bangga ke kampus pakai mobil orang tua untuk mejeng sana sini dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, manja dalam belajar serta lemah karakter. Percuma nanti di hari wisuda, para alumni itu hanya menambah daftar pengangguran negeri ini, buat apa kamu kuliah sobat?
Sobat, mari kita maknai dengan #bijak kenapa kita harus kuliah. Ini bukan hanya sekedar mengikuti kebiasaan banyak orang. Tetapi ini tentang upaya membuat diri kita lebih mampu berkontribusi untuk pembangunan bangsa.
Sobat, kamu mau berkontribusi apa selama kuliah?
“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”
-Ki Hajar Dewantara-

[repost]

PERTANIAN BERKELANJUTAN


Pertanian Berkelanjutan Suatu Konsep Pemikiran Masa Depan. Apa itu pertanian berkelanjutan? Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang berlanjut untuk saat ini, saat yang akan datang dan selamanya. Artinya pertanian tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya dan tidak menimbulkan bencana bagi semuanya.
Jadi dengan kata lain pertanian yang bisa dilaksanakan saat ini, saat yang akan datang dan menjadi warisan yang berharga bagi anak cucu kita.
Menurut Gips, suatu sistem pertanian itu bisa disebut berkelanjutan jika memiliki sifat-sifat sbb:
·         Mampertahankan fungsi ekologis, artinya tidak merusak ekologi pertanian itu sendiri
·         Berlanjut secara ekonomis artinya mampu memberikan nilai yang layak bagi pelaksana pertanian itu dan tidak ada pihak yang diekploitasi. Masing-masing pihak mendapatkan hak sesuai dengan partisipasinya
·         Adil berarti setiap pelaku pelaksanan pertanian mendapatkan hak-haknya tanpa dibatasi dan dibelunggu dan tidak melanggar hal yang lain
·         Manusiawi artinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dimana harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi termasuk budaya yang telah ada
·         Luwes yang berarri mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, dengan demikian pertanian berkelanjutan tidak statis tetapi dinamis bisa mengakomodir keinginan konsumen maupun produsen.

Mengapa harus berkelanjutan?
Apa bisa berlanjut ? merupakan pertanyaan mendasar dan apakah itu mungkin? Jawabannya adalah mungkin asalka semua yang berkait dengan pertanian itu sadar dan melaksanakan prinsip-prinsip pertanian yang berkelanjutan. Salah satu alasan mengapa harus berlanjut adalah pengalaman selama ini dimana input tinggi telah menyebabkan degradasi lahan secara nyata. Sebagai contoh penggunaan pestisida yang berlebihan menyebabkan resurgensi, resistensi dan munculnya hama penyakit sekunder. 

Penggunaan pupuk yang berlebihan malah menyebabkan pertemubuhan vegetatif yang tak diinginkan dan di daerah hilir menyebabkan eutrifikasi (suburnya perairan akibat akumulai hara oleh aliran air). Lahan sebagai penopang utama telah rusak, maka akan sangat mahal biaya yang harus dikeluarkan dan dimasa yang akan datang anak cucu hanya ditinggali barang sisa kurang bermutu. Pada hal harapakn kita semua generasi yang akan datang harus lebih baik daripada generasi saat ini.


Langkah apa yang bisa dilaksanakan?
Langkah yang bisa ditempuh adalah pertama meningkatkan kesadaran pertanian berkelanjutan. Kedua setiap pihak yang berkait dengan pertanian melaksanakan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan. Ketiga dukungan konsumen yang tidak mengkonsumsi produk pertanian yang tidak ramah lingkungan.
 

Langkah operasional yang bisa dilaksanakan adalah : melaksanakan pengolahan tanam minimal, sebanyak mungkin menggunakan pupuk organik, melaksanakan pengendalian hama penyakit dengan bahan yang ramah lingkungan.

Memang hal ini masih menjadi hal yang utopis, tapi sesuai dengan nasehat ulama besar AA Gym agar mulai dari yang terkecil,mulai sekarang juga dan mulai dari diri sendiri. Itu memerlukan waktu yang panjang. Marilah kia wujudkan pertanian berkelanjutan sesuai dengan tupokasi lembaga masing-masing. Muara dari semua upaya itu adalah meningkatkan kesejahteraan kita semua tanpa kecuali. Semoga.
 (Nurwidada)