Mahasiswa sebagai agent of change harus memiliki kemampuan dan keterampilan serta
kepribadian yang tangguh, kuat, dan santun. Soft
skill merupakan keterampilan yang dapat mementuk kepribadian seprti itu.
Semakin banyak keterampilan halus (soft
skil) yang dimiliki diharapkan semakin kuat kepribadian mahasiswa dalam
menghadapi semua tantangan pembelajaran
di kampus, tantangan kerja, serta tantangan yang lain. Kadang-kadang apa yang
diberikan di bangku kuliah tidak sepenuhny serasi dengan keutuhan dilapangan
kerja, ketidakserasian ini disebabkan pendidikan didalam kelas yang lebih
bertumpu pada hard skill. Untuk
mengatasi maslah ini salah satu caranya adalah memberikan bobot yang lebih
tinggi pada pengembangan soft skill ,
dan implementasinya dalam pembelajaran perlu dikembangkan.
Di dalam persaingan seperti sekarang,
kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki profesionalisme dan manajerial skill
yang berbasis kemampuan sudah merupakan tuntutan. Terlebih di dunia kerja sekarang
banyak dipengaruhi perubahan pasar, ekonomi dan teknologi. Tenaga kerja yang
memiliki kecerdasan emosional sangat mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut
disamping kecerdasan intelektual. Dari survey yang dilakukan Nasional Assosiation of Colleges and Employers
USA (2002) terhadap 457 pimpinan perusahaan,
kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa indeks prestasi kumulatif tidak akan
terlalu berpengaruh, melainkan kemampuan komunikasi, kejujuran, kerjasama, motivasi,
kemampuan beradaptasi dan kemampuan interpersonal dengan orientasi nilai pada
kinerja yang efektif dimana semuanya ada dalam soft skill.
Bukan berarti bahwa sekolah atau
kuliah menjadi tidak penting. Namun, keseimbangan dari pertumbuhan hard skill dan soft skill akan membuat seseorang mengalami sukses lebih cepat dan
lebih jauh dari kesuksesan yang hanya ditunjang oleh salah satu faktor
tersebut. Perpaduan antara hard skill
dan soft skill sangat diperlukan
untuk meraih jenjang karir yang tinggi atau memperluas bisnis di masa depan.
Pelaksanaan pengembangan soft skill di kampus atau di sekolah tidak harus melalui perubahan
kurikulum dengan menambahkan matakuliah sendiri untuk pengembangan keterampilan
ini, namun dapat dilakukan juga dengan mengimplementasikan ini dalam kurikulum.
Apabila atribut soft skill yang akan
dikembangkan adalah kemampuan lisan, maka proses pembelajarannya dapat
dilakukkan dngan metode diskusi, bermain peran, serta diskusi kelompok.
Sedangkan untuk atribut soft skill
kerja sama dapat dilakukkan dengan pemberian tugas kelompok. Selain itu,
pengembangan atribut ini juga dapat dilakukkan dengan ikut kegiatan
keorganisasian di kampus, atau lingkungan lainnya.
Pada prinsipnya pengembangan soft skill dapat dikembangkan melalui sisipan dalam
berbagai mata kuliah, hanya tinggl memilih metode yang teat untuk itu. Kesuksesan
dosen, mahasiswa, tenaga kerja, dan ainnya tidak hanya ditentukan hard skill, seperti keterampilan teknik,
prestasi belajar, dan potens akademi umum, tetapi juga dibutuhkan soft skill. Sehubungan dengan itu, mahasiswa harus lebih aktif
berkegiatan positif dengan memanfaatkan ajang kreatifitas yang ada.






0 komentar:
Posting Komentar